Thursday, 19 October 2017

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Di artikel sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang ketentuan pernikahan dalam islam dan di postingan ini saya akan menjelaskan secara lengkap tentang hak dan kewajiban suami istri.

Dengan berlangsungnya akad pernikahan, maka memberi konsekuensi adanya hak dan kewajiban suami istri, yang mencakup 3 hal, yaitu: kewajiban bersama timbal balik antara suami istri, kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami.

1). Kewajiban timbal balik antara suami dan istri, yaitu sebagai berikut.
  1. Saling menikmati hubungan fisik antara suami istri, termasuk hubungan seksual diantara mereka.
  2. Timbulnya hubungan mahram diantara mereka berdua, sehingga istri diharamkan menikah dengan ayah suami dan seterusnya hingga garis ke atas, juga dengan anak dari suami dan seterusnya hingga garis ke bawah, walaupun setelah mereka bercerai. Demikian sebaliknya berlaku pula bagi suami.
  3. Berlakunya hukum pewarisan antara keduanya.
  4. Dihubungkannya nasab anak mereka dengan suami (dengan syarat kelahiran paling sedikit 6 bulan sejak berlangsungnya akad nikah dan dukhull/berhubungan suami istri)
  5. Berlangsungnya hubungan baik antara keduanya dengan berusaha melakukan pergaulan secara bijaksana, rukun, damai, dan harmonis.
  6. Menjaga penampilan lahiriah dalam rangka merawat keutuhan cinta dan kasih sayang diantara keduanya.
2). Kewajiban suami terhadap istri
  1. Mahar, Memberikan mahar adalah wajib hukumnya, maka Mazhab Maliki memasukkan mahar kedalam buku nikah, sementara para fukaha lain memasukkan mahar kedalam syarat sahnya nikah, dengan alasan bahhwa pembayaran mahar boleh ditangguhkan.
  2. Nafkah, yaitu pemberian nafkah untuk istri demi memenuhi keperluan berupa makanan,pakaian, perumahan (teermasuk perabotnya), pembantu rumah tangga dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat sekitar pada umumnya.
  3. Memimpin rumah tangga.
  4. Membimbing dan mendidik.
3). Kewajiban istri terhadap suami

a). Taat kepada suami.

Istri yang setia kepada suaminya berarti telah mengimbangi kewajiban suaminya kepadanya. Ketaatan istri kepada suami hanya dalam hal kebaikan. Jika suami meminta istri untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Allah Swt., maka istri harus menolaknya. Tidak ada ketaatan kepada manusiadalam kemaksiatan kepada Allah Swt.

b). Menjaga diri dan kehormatan keluarga.

Menjaga kehormatan diri dan rumah tangga, adalah mereka yang taat kepada Allah Swt. Dan suami, dan memelihara kehormatan diri mereka bilamana suami tidak ada dirumah. Istri wajib menjaga harta dan kehormatan suami, karenanya istri tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami.

c). Merawat dan mendidik anak.

Walaupun hak dan kewajiban merawat dan mendidik anak itu merupakan hak dan kewajiban suami, tetapi istripun mempunyai hak dan kewajiban merawat dan mendidik anak secara bersama. Terlebih istri itu pada umunya lebih dekat dengan anak, karena dia lebih banyak tinggal dirumah bersama anaknya. Maju mundurnya pendidikan yang diperoleh anak banyak ditentukan oleh perhatiab ibu.

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

Ketentuan Pernikahan dalam Islam


1). Pengertian Pernikahan

Secara bahasa, arti “nikah” berarti” mengumpulkan, menggabungkan, atau menjodohkan.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “nikah” diartikan sebagai “perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri “dengan resmi” atau “pernikahan”. Sedang menurut syaria’ah, “nikah” berarti akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing.
Dalam Undang-undang pernikahan RI (UUPRI) Nomor 1 Tahun 1974, definisi atau pengertian perkawinan atau pernikahan ialah “ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

2. Tujuan Pernikahan

Seseorang yang akan menikah harus memiliki tujuan positif dan mulia untuk membina keluarga sakinah dalam rumah tangga, di antaranya sebagai berikut.

a. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi Rasulullaw saw., bersabda yang artinya:

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a, dasi Nabi Muhammad saw.,beliau bersabda:’wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena gamanya. Nikahilah wanita karena afamanya, kalau tidak kamu akan celaka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

b. Untuk mendapatkan kenangan hidup

Allah Swt. Berfirman yang artinya:

Artinya : 
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah Swt) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. ar-Rum/30:21).

c. Untuk membentengi akhlak

Rasulullah Saw. Bersabda yang artinya : “Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkempampuan untuk nikah, maka nikahlah karena nikah itu menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Al-bukhari dan Muslim)

d. Untuk meningkatkan ibadan kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. Bersabda yang artinya:
Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekahi.

Mendengan sabda Rasulullah Saw para sahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan memdapat pahala”? Nabi Muhammad Saw. Menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa? “Jawab para sahabat, “Ya benar”. Beliau bersabda lagi, “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (ditempat yang halal), mereka kan memperoleh pahala”. (HR.Muslim).

e. Untuk mendapatkan keturunan yang salih

Allah Swt. Berfirman yang artinya : 
Allah telan menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu istri-istrimu itu anak-anak- dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikat Allah?”. (Q.S.an-NahI/16:72).

f. Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami

Dalam al-Qu’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya talaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga. Firman Allah Swt.

Talaq (yang dapat ditujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’aruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir
 Tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang hukum Allah, makan janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah  mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Q.S al-Baqarah/2:229).

3. Hukum Pernikahan

Para ulama menyebutkan bahwa nikah diperintahkan karena dapat mewujudkan muslahat, memelihara diri, kehormatan, mendapatkan pahala dan lain-lain. Oleh karena itu , apabila pernikahan justru membawa mudharat maka nikah pun dilarang. Karena itu hukum melakukan pernikahan adalah mubah.

Para ahli fikih sependapat bahwa pernikahan tidak sama penerapannya kepada semua mukallaf, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, baik dilihat dari kesiapan ekonomi, fisik, mental ataupun akhlak. Karena itu hukum nikah bisa menjadi, wajib, sunah, mubah, haram dan makruh. Penjelasannya sebagai berikut.

a). Wajib yaitu bagi orang yang telah mampu baik fisik, mental, ekonomi maupun akhlak untuk melakukan pernikahan, mempunyai keinginan untuk menikah, dan jika tidak menikah, maka dikhawatirkan akan  jatuh pada perbuatan maksiat, maka wajib baginya untuk menikah. Karena menjauhi zina adalah dengan menikah.

b). Sunnah, yaitu bagi orang yang telah mempunyai keinginan untuk menikah namun tidak dikhawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat, sekiranya tidak menikah. Dalam kondisi seperti ini sesorang boleh melakukan dan boleh tidak melakukan pernikahan. Tapi melakukan pernikahan adalah lebih baik daripda mengkhususkan diri untuk beribadah sebagai bentuk sikap taat kepada Allah Swt.

c). Mubah bagi yang telah mampu dan aman dari fitnah, tetapi tidak membutuhkannya atau tidak memiliki syahwat sama sekali seperti orang yang impoten atau lanjut usia, atau yang tidak mampu menafkahi, sedangkan wanitanya rela dengan syarat wanita tersebut harus rasyidah (berakal).

d). Haram yaitu bagi orang yang yakin bahwa dirinya tidak akan mampu melaksanankan kewajibab-kewajiban pernikahan, baik kewajiban yang berkaitan dengan hubunganseksual maupun berkaitan dengan kewajiban-kewajiban lainnya. Pernikahan mengandung dengan bahaya bagi wanita yang akan dijadikan  istri. Sesuatu yang menimbulkan bahaya dilarang dalam Islam.

Tentang hal ini Imam al-Qurtubi mengatakan,”Jika suami mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menafkahi istri atau memberi mahar, dan memenuhi hak-hak istri yang wajib, atau mempunyai suatu penyakit yang menghalanginya untuk melakukan hubungan seksual, maka dia tidak boleh menafkahi  wanita itu sampai dia menjelaskannya kepada calon istrinya. Demikian juga wajib bagi calon istri menjelaskan kepada calon suami jika dirinya tidak mampu memberikan hak atau mempunyai suatu penyakit yang menghalanginya untuk melakukan hubungan seksual dengannya".

e). Makruh yaitu bagi sesorang yang menikahi tetapi dia khawatir akan menyakiti wanita yang akan dinikahinya, atau menzalimi hak-hak istri yang buruknya pergaulan yang dia miliki dalam memnuhi hak-hak manusia, atau tidak minat terhadap wanita dan tidak mengharapkan keturunan.

4. Orang-Orang Yang Tidak Boleh Dinikahi

Al-Qur’an telah menjelaskan tentang orang-orang tidak boleh (haram) dinikahi (Q.S. an-Nisa’/4:23-24). Wanita yang haram dinikahi disebut juga mahram nikah. Mahram nikah sebenarnya dapat dilihat dari pihak laki-laki dan dapat dilihat dari pihak wanita. Dalam pembahasan secara umum biasanya yang dibicarakan ialah mahram nikah dari pihak wanita, sebab pihak laki-laki yang biasanya mempunyai kemauan terlebih dahulu untuk mencari jodoh dengan wanita pilihannya.

Dilihat dari kondisinya mahram terbagi kepada dua; pertama mahram muabbad (wanita diharamkan untuk dinikahi selama-lamanya) seperti: keturunan, satu susuan, mertua perempuan, anak tiri, jika ibunya sudah dicampuri, bekas menantu perempuan, dan bekas ibu tiri. Kedua mahram gair muabbad adalah mahram sebab menghimpun dua perempuan yang status bersaudara, misalnya daudara sepersusuan kakak dan adiknya. Hal ini boleh dinikahi tetapi setelah yang satu statusnya sudah bercerai atau mati. Yang lain dengan sebab istri orang dan sebab iddah.

Berdasarkan ayat tersebut menjadi empat kelompok:

Mahram (Orang yang tidak boleh dinikahi)
Keturunan
Pernikahan
Persusuan
Dikumpul/Dimadu
1). Ibu dan Seterusnya ke atas
1). Ibu dari istri (mertua)
1). Ibu yang menyusui
1). Saudara perempuan dari istri
2). Anak perempuan adzan seterusnya ke bawah
2). Anak tiri, bila ibunya sudah dicampuri
2). Saudara perempuan sepersusuan
2). Bibi perempuan dari istri
3). Bibi, baik dari bapak atau ibu
3). Istri bapak (ibu tiri)

3). Keponakan perempuan dari istri
4). Anak perempuan dari saudara perempuan atau saudara laki-laki
4). Istri anak (menantu)



5. Rukun dan Syarat Pernikahan

Para ahli fikih berbeda pendapat dalam menentukan rukun dan syarat pernikahan. Perbedaan tersebut adalah dalam menempatkan mana yang termasuk syarat dan mana yang temasuk rukun. Jumhur ulama sebagaimana juga Mazhad Syafi’i mengemukakan bahwa rukun nikah ada lima seperti dibawah ini.

a. Calon suami, syarat-syaratnya sebagai berikut:

  1. Bukan mahram si wanita, calon suami bukan termasuk yang haram dinikahi karena adanya hubungan nasab atau sepersusun.
  2. Mu’ayyan (beridentitas jelas), harus ada kepastian siapa identitas mempelai laki-alaki dengan menyebut nama atau sifatnya yang khusus.
b. Calon istri, syaratnya adalah:

  1. Bukan mahram si laki-laki
  2. Terbebas dari halangan nikah, misalnya masih dalam masa iddah atau berstatus sebagai istri orang.
c. Wali, yaitu bapak kandung mempelai wanita, penerimaan wasiat atau kerabat terdekat, dan seterusnya sesuai dengan susunan ashabah manita tersebut, Rasulullah saw. Bersabda:
Tidak ada nikah, kecuali dengan wali

Syarat wali adalah:

  1. Orang yang dikehendaki, bukan orang yang dibenci,
  2. Laki-laki, bukan perempuan atau banci,
  3. Mahram si wanita,
  4. Balig, bukan anak-anak,
  5. Berakal, tidak gila,
  6. Adil, tidak fasiq,
  7. Tidak terhalang wali lain,
  8. Tidak buta,
  9. Tidak berbeda agama,
  10. Merdeka, bukan budak,
d. Dua orang saksi.

Firman Allah Swt.:”Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kalian.” (Q.S. at-Talaq/65:2).

Syarat saksi adalah:

  1. Berjumlah dua orang, bukan budak,bukan wanita, dan bukan orang fasik.
  2. Sunnah dalam keadaan rela dan tidak terpaksa.
e. Sigah (ijab kabul), yaitu perkataan dari  mempelai laki-laki atau wakilnya ketika akad nikah.

Syarat Shighat adalah:

  1. Tidak tergantung denga syarat lain.
  2. Tidak terikat dengan waktu tertentu.
  3. Boleh dengan bahasa asing.
  4. Dengan menggunakan bahasa “tazwij” atau “nikah”, tidak boleh dalam bentuk Kinayah (sindiran), karena kinayah membutuhkan niat sedang niat itu sesuatu yang absyrak.
  5. Qabul harus dengan ucapan “Qabitu nikaha/tazwijaha” dan boleh dibahulukan dari ijab.
  6. Pernikahan yang Tidak Sah
Di antara pernikahan yang tidak sah dan dilarang oleh Rasullulah Saw. Adalah sebagai berikut :

a). Pernikahan Mut’ah, yaitu pernikahan yang dibatasi untuk jangka waktu tertentu, baik sebentar ataupun lama. Dasarnya adlah hadist berikut:
Bahwa Rasullulah saw. Melarang pernikahan mut’ah serta daging keledai kampung (jinak) pada saat perang khaibar." (HR. Muslim).

b). Pernikahan Syighar, yaitu Pernikahan dengan persyaratan barter tanpa pemberian mahar. Dasarnya adalah hadist berikut: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Melarang nikah syighar. Adapun nikah syighar yaitu seorang bapak menikahkan seseorang dengan putrinya dengan syarat bahwa seseorang itu harus menikahkan dirinya dengan putrinya, tanpa mahar di antara keduanya.” (HR.Muslim)

c). Pernikahan Muhallil, yaitu pernikahan seorang wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya yang karenanya diharamkan untuk rujuk kepadanya, kemudian wanita itu dinikahi laki-laki lain dengan tujuan untuk menghalalkan dinikahi lagi oleh mantan suaminya.  Abdullah bin Mas’ud berkata: “Rasulullah saw. Melaknat muhallil dan muhallal lahu.” (HR. At-Tirmizi)

d). Pernikahan orang yang ihram, yaitu pernikahan orang yang sedang melaksanakan ihram haji atau ‘umrah serta belum memasuki waktu tahallul. Rasullulah saw. Bersabda: “Orang yang sedang melakukan ihram tidak bolehmenikah dan menikahkan.” (HR.Muslim)

e). Pernikahan dalam masa iddah, yaitu pernikahan dimana seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang sedang dalam masa iddah, baik karena perceraian ataupun meninggal dunia. Allah swt. Berfirman: “Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya”. (Q.S. al-Baqarah/2:235)

f.) Pernikahan tanpa wali, yaitu pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dengan seorang wanita tanpa seijin walinya. Rasulullah Swt. Bersabda: “Tidak ada nikah kecuali dengan wali”

g). Pernikahan dengan wanita kafir selain wanita ahli kitab, Berdasarkan firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu kmenikahi wanita-wanita musyik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (Q.S. al-Baqarah/2:221)

h). Menikahi mahram, baik mahram untuk selamanya, mahram karena pernikahan atau karena sepersusuan.

Tuesday, 17 October 2017

Menganalisis Petualangan, Penjelajahan dan Penemuan Dunia Baru

Negara-negara yang memeloropi penjelajahan samudra adalah Portugis dan Spanyol. Untuk menghindari persaingan antara Portugis dan Spanyol, pada tanggal 7 juni 1494 lahirlah perjannjian Tordesillas yang berisi Paus membagi daerah kekuasaan di dunia non-Kristiani menjadi dua bagian dengan batas garis demarkasi/khayal yang membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan. Daerah sebelah garis timur garis khayal adalah jalur/kekuasaan Portugis, sedangkan daerah sebelah barat garis khayal adalah garis Spanyol.

a). Pelayaran Orang-Orang Portugis

Orang-orang Portugis menjadi pelopor berlayar mencari tempat asal Rempah-rempah. Berikut ini penjelaja-penjelajah yang berasal dari Portugis.

1). Bartholomeus Diaz

Bartholomeus Diaz Berankat dari Lisabon (Portugis) pada bulan Agustus 1487. Ketika sampai di ujung selatan Benua Afrika, kapal Diaz terkena badai topan. Selatan badai reda, Diaz kembali ke Portugis. Diaz dan rombongannya hanya sampai ke ujung Selatan Benua Afrika dinamai Tanjung Badai. Akan tetapi, Raja Portugal Joao II mengganti namanya menjadi Tanjung Harapan ( Cape Of Good Hope ) karena untuk menghilangkan kesan menakutkan dan tempat tersebut dianggap memberikan harapan bagi bangsa Portugis untuk menemukan Hindia.

2). Vasco Da Gama

Pada tanggal 8 juli 1947, Raja Portugis manuel I memerintahkan Vasco Da Gama mengikuti jejak Diaz. Ekspedisinya dilakukan melalui laut sepanjang pantai Afrika Barat. Dalam pelayarannya, Vasco Da Gama sempat singgah di pantai Afrika Timur. Ataas petunjuk Mualim Moor, Da Gama melanjutkan ekspedisinya memasuki Samudra Hindia dan Laut Arab. Perjalanan Vasco Da Gama tiba di Calcuta pada tanggal 22 Mei 1498. Di Calcuta, Vasco da Gamaberupaya mendirikan pos perdagangan. Ia membeli rempah-rempah untuk dikirim ke Portugis dan sebagian dijual ke negara0negara Eropa lainnya.

b). Pelayaran Orang-Orang Spanyol

Berikut ini para penjelajah Spanyol yang melakukan pelayaran ke dunia Timur

1). Christopher Colombus

Pada tanggal 3 Aguatur 1492 dengan menggunakan tiga buah kapal, yaitu Santa Maria, Nina dan Pinta, Colombus mulai berlayar mencari sumber rempah-rempahdi dunia Timur. Setelah berlayar lebih dari 2 bulan mengarungi Samudra Atlantik, sampailah colombus di pulau Guanahani yang terletak dikepulauan Bahama, Karibia. Ia merasa telah sampai di kepulauan itu sebagai Indian. Colombus bersama seorang penyelidik bernama Amergo Vaspucciantara tahun 1492-1504, berlayar terhitung 4 kali. Mereka menemukan Benua baru yang kemudian bernama Amerika.

2). Ferdinand Magelhaens (Magellan)

Pada tanggal 10 Agustus 1519, Magelhaens berlayar ke barat di dampingi oleh Kapten Juan Sebastian del Cano (Sebastial Del Cano) dan seorang penulis dari Italia yang bernama Pigafetta. Magelhaens dianggap sebagai orang besar dalam dunia pelayaran karena menjadi orang yang pertama kali berhasil mengwlilingi dunia. Raja Spanyol memberi hadiah sebuah tiruan bola bumi. Pada tiruan bola bumi itu dililitkan pita bertuliskan ‘Engkaulah yang pertama kali mengitari diriku’. Pada tahun 1520, setelah menyebrangi Samudra Pasifik, sampailah rrombongan Megalhaens di Kepulauan Massava. Kepulauan ini kemudian diberi nama Filipina (mengambil nama Raja Spanyol, Phillips II). Dalam suatu pertempuran melawan orang Mactan, Magalhaens gugur (27 April 1521). Akibat peristiwa itu rombongan bergegas meningkatkan Filipina dipimpin oleh Sebastian Del Cano menuju kepulauan Maluku.

c). Pelayaran Orang-Orang Inggris

Berikut ini para penjelajah Inggris yang melakukan Pelayaran ke dunia Timur.

1). Sir Francis Drake

Pada tahun 1577, Drake berangkat berlayar dari Inggris ke arah Barat. Dalam pelayarannya, rombongan ini memborong rempah-rempah di Ternate. Setelah mendapatkan banyak rempah-rempah, Drake pilang ke negerinys dan sampai di Inggris pada tahun 1580. Pelayaran Dreake ini belum memiliki arti p enting secara ekonomis dan ppolotis.

2). Sir James Lancester dan George Reymond

Pada pelayaran tahun 1591, Lancester berhasil mengadakan pelayaran sampai ke Aceh dan Penang, sampai di Inggris pada tahun 1594. Pada bulan Juni 1602,Lancester dan maskapai perdagngan Inggris (EIC) berhasil tiba di Aceh dan terus menuju Banten. Di Banten dia mendapatkan ijin mendirikan kantor dagang.

3). Sir Henry Midlenton

Pada tahun 1604, pelayaran kedua EIC yang dipimpin Sir Henry Midlenton berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Terjadi persaingan antaran EIC dan VOC.Selama tahun 1611-1617, orang-orang Inggris mendirikan kantor dagang di Sukadana (Kalimantan Barat Daya), Makassar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi.

Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab Allah SWT


1). Pengertian Kitab

Kitab adalah kumpulan wahyu yang Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Wahyu Allah yang telah dapat dikumpulkan dan dibukukan disebut kitab, sedangkan wahyu Allah yang berupa lembaran-lembaran yang tidak dibukukan dinamakan suhuf (berasal dari kata sahifah yang berarti lembaran wahyu Allah Swt.).

Perbedaan Kitab dengan Suhuf

No
Kitab
Suhuf
1).
Bersifat lebih lengkap dan dibukukan.
Masih berupa lembaran-lembaran
2).
Wajib diteruskan dan diajarkan kepada umat manusia.
Tidak wajib diteruskan dan diajarkan kepada umat manusia.
3).
Manusia wajib mengetahui dan mengikutinya sebagai petunjuk dan pedoman hidupnya.
Manusia tidak wajib mengetahui dan mengikutinya.

Nabi-nabi yang menerima Suhuf


No
Nama Nabi
Jumlah Suhuf
1).
Syis a.s.
50
2).
Idris a.s.
30
3).
Ibrahim a.s.
10
4).
Musa a.s.
10

Umat Islam wajib percaya dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa smeua kitab atau suhuf yang telah diturunkan Allah itu benar-benar nyata meskipun tidak semua kitab atau suhuf itu dapat ditemukan saat ini. Orang yang mengingkari keberadaan kitab-kitab Allah dapat dikatakan telah ingkar (kafir) sebagaimana firman Allah Swt. Dalam Q.S. an-Nisa : 136 yang artinya.

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasulnya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf yang berupa lembaran-lembaran yang telah diturunkan kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Musa a.s. Firman Allah Swt yang artinya.

Artinya :
“(yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa” (Q.S. al-A’la: 19)

Kitab-kitab Allah tersebut berisi berbagai peraturan, ketentuan, perintah dan larangan, janji dan ancaman, pedoman hidup, suri teladan orang-orang yang bijak serta contoh dan akibat dari orang-orang yang sesat. Dengan demikian diharapkan umat manusia akan senantiasa berada pada jalur yang diridai Allah sehingga dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki yaitu surga.

2). Kitab-Kitab Allah SWT Dan Para Penerimanya

Kitab suci yang diturunkan Allah kepada para rasul jumlahnya sangat banyak, namun yang wajib kita ketahui dan kita imani yang wajib ada empat, yaitu sebagai berikut :

a). Kitab Taubat
Kitab suci berbahasa Ibrani yang diwahyukan Allah Swt. Kepada Nabi Musa a.s. di bukit Tursina, daerah Mesir pada sekitar abad 12 sebelum Masehi. Kitab ini adalah kitab tertua dibanding dengan kitab-kitab lainnya. Kitab Taubat diturunkan sebagai pedoman hidup bagi kaum Bani Israil. Allah berfirman dalam Q.S. al-Isra : 2 yang artinya.

Artinya :
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taubat) dan Kami jadikan kitab Taubat itu petunjuk bagi Bagi Israil (dengan firman) : “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.

b). Kitab Zabur

Kitab suci berbahasa Suryani yang diwahyukan Allah kepada Nabi Daud a.s. di daerah Yerusalem (Israel) pada sekitar abad ke-10 sebelum Masehi. Kitab Zabur/Mazmur berisi kumpulan nyanyian pujian kepada Allah atas segala nikmat ilahiah. Di dalamnya juga berisi zikir, doa, nasihat, dan kata-kata hikmah. Kitab ini merupakan petunjuk bagi umat Nabi Daud a.s. agar beriman dan mengesankan Allah Awt yang artinya.

Artinya :
Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

c). Kitab Injil

Kitab suci berbahasa Qibti yang diwahyukan Allah Swt. Kepada nabi isa a.s. di daerah Yerusalem (Israel) sekitar abad pertama Masehi yang artinya

Firman Allah Q.S. al-Maidah:46.

Artinya : 
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi Bani Israel) dengan isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

d). Kitab Alquran

Kitab suci Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk bang Arab. Sebagai kitab suci yang terakhir, maka Alquran telah mencakup ajaran seluruh kitab-kitab sebelumnya sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Furqan: 1 yang artinya

Artinya : 
Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya, adar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Isi pokok Alquran meliputi hal-hal berikut.

  1. Akidah atau keimanan.
  2. Ibadah, baik ibadah mahdah maupun gairu mahdah.
  3. Akhlak seorang hamba kepada Khaliq, kepada sesama manusia, dan alam sekitarnya.
  4. Muamalah, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.
  5. Kisah nabi dan rasul, orang-orang saleh, dan orsng-orang yang ingkar.
  6. Semangat mengembangkan ilmu p engetahuan.
Sedangkan kitab suci umat islam, Alquran memiliki beberapa keutamaan dan keistimewaan dibanding kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Keutamaan dan keistimewaan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Tidak ada sesuatupun yang dapat menandingi kehebatan Alquran (QQ.S. al-Isra’:88)
  2. Alquran membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan sebagai ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat pada kitab-kitab tersebut. (Q.S. al-Maidah:48)
  3. Isi Alquran mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, mengsndung semua ketetapan hukum yang selalu sesuai dengan perkembangan zaman, seperti akidah, fikih, akhlak, mualamah, dan sejarah.
  4. Alquran terpelihara kemurniannya hingga akhir zaman, tidak pernah bisa dimauki oleh ide-ide manusia yang ingin menyimpangkannya. Tidak seorangpun yang bisa membuat semisal Alquran. (Q.S. al-Hijr:9)
  5. Alquran sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. al-Isra’:82)

Monday, 16 October 2017

Memahami Unsur Pambangun Sajroning Serat Wedhatama Pupuh Gambuh

Unsur Pambangun Sajroning Serat Wedhatama


Saben pupuh sajroning serat Wedhatama mesthi nggunakake basa kang endah, klebu pupuh Gambuh. Kaendahan basa kasebut ana ing diksi utawa pamilihane tembung lan purwakanthi.

    1).  Diksi

      Diksi pamilihane tembung ora amung ditegasi kanthi rerangkening tembung                             tembung kang digunakake kanggo nengungkap idhe utawa gagasan, nanging                             nglimput fraseologi, gaya basa, lan paumpaman.

      Panggunaan diksi kang trep bisa nuwuhake gagaasan-gagasan kang trep awujud imajisi marang wong kang woco utawa nyemak, kaya apa kang dipikirake utawa dirasakake bakal nyangkut prakara tegesa tembung lan tetembungan salah siji wong.
      
      Wondhene diksi kang tinemu ing Serat Wedhatama pupuh Gambuh, yaiku dasanama. Dasanamanetegese tembung-tembung kang nunggal teges. Gegandhengan ing basa jawa ana warna basa kang manut unggah-ungguh, dasanama bisa kaprinci dadi pirang-pirang warna. Mula ana tembung sepuluh, luwih, utawa kurang sepuluh nanging isih nunggal teges.

Tuladha:

Ing gatra kalima pada kapisan tembang Gambuh “tandha nugrahaning Manon), tembung Manon mujudake dasanamane Gusti Kang Mahakuasa. Panggone tembung Manon ing gatra kasebut  digunakake kanggo ngendahake wujude tembang macapat uga kanggo nyelarasake gunggunge wandha lan dhong-dhing saben tembang macapat.

Sajroning diksi kang digunakake ing pupuh Gambuh mesthi nggunakakr tembung lingga lan tembung andhahan.

    a). Tembung lingga

Tembung lingga yaiku tembung kang isih wutuh, kang durung anthuk imbuhan apa-apa, utawa tembung kang iseh wantah utawa asli. Tembung bisa digolongake wujud bebas. Tembung lingga ana kang dumadi saka sawanda, rong wanda, utawa telung wanda.

    b). Tembung andhahan

Tembung andhahan yaiku tembung kang wis owah saka asale. Tembung andhahan kadadean saka tembung lingga kang antuk imbuhuan utawa  tembung lingga kang wis dirimbag. Imbuhan ana papat, yaiku ater-ater, seselan, panambang, lan imbuhan sesarengan.

Kajaba panggunaan tembung lingga lan tembung andhahan, ing pupuh Gambuh iki uda nggunakake tembung rangkep lan tembung gerba.

    a). Tembung rangkep, kadadean saka tembung lingga kang dirangkep. Pangrangkepe lingga iki ana kang karangkep wutuh, sinebut dwilingga wutuh, lan ana kang karangkep kanthi owah-owahan swara, kang diarani dwilingga salin swara. 

    b). Tembung gerba, tegese tembung loro kang dirangkep dadi siji, nanging ngaggo ngurangi cacahing wanda. Tuladhane: tembung mareng dumadi saka mara +ing.

     2). Purwakanthi

Purwakanthi iku dumadi saka tembung purwa kang tegese wiwitan lan kanthi kang ateges wis loro, nganggo, lan gandheng. Dene tembung purwakanthi iku ateges gandheng karo kang ngarep utawa gandheng swara kang wis kasebut ing perangan ngarep purwakanthi kaperang dadi telu, yaiku:

a.       Purwakanthi guru swara, yaiku purwakanthi kang padha swara pungkasaning tembung.

Tuladha :

Ing greruntutan ing satra katelu pada kapisan tembang Gambuh “dhihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki” ana pangulangan swara a ing pungkasan tembung kanthi reruntutan ing sakurara.

b.      Purwakanthi guru sastra, purwakanthi kang padha tulisan utawa aksarane ing saben wiwitan utawa tetembungane.

Tuladha:

Ing gatra kaloro pada kapisan tembang Gambuh “sembah catur supaya lumuntur” ana pangulangan aksara mati (konsonan) ing pungkasan tembung catur lan lumuntur.

c.       Purwakanthi lumaksita (basa), yaiku purwakanthi kang padha tembunge, yaiku tembung pungkasan ukara kang ngarep, dadi tembung wiwitan utawa candhake. Ing pada kapisan pupuh Gambuh ora ana panggunaan purwakanthi lumaksita iki. 

Memahami Guru Gatra, Guru Lagu, lan Guru Wilangan Serat Wedhatama Pupuh Gambuh

 Guru Gatra, Guru Lagu, lan Guru Wilangan Serat Wedhatama


Sejarah Serat Wedhatama

Serat Wedhatama yaitu sastra kang awujud tembang Jawa anggitan dalem Mangkunegara IV. Wedhatama asalae saka basa Jawa 'wredatama' kang tegese serat (tulisan/karya), wedha (ajaran), lan tama (utama/keutamaan).Wedhatama yaitu ajaran luhur kanggo mbangun budi pakarti lan olah spiritual kanggo kalangan raja-raja Mataram, nanging uga diwulangake kanggo sapa bae kang gelem moco.

Pengertian Serat Wedhatama

Serat wedhatama yaiku salah siji piwulang dhasar kanggo olah rasa kanggo sapa bae kang gelem nyinauni lumantar sawijing agama. Serat Wedhatama mligine pupuhGambuh ngandut piwulang kanggo nggayung kasampurnaning urip lumantar laku. Laku ing serat Wedhatama pupuh Gambung iku keperang dadi papat. Serat Wedhatam iku klebu jinis serat sing gampang dimangerteni dening sapa bae. Jalaran sajroning Serat Wedhatama mligini pupuh Gambuh, ing kono dijlentrehake kanthi cara kaprinci sing mbaka siji laku prihatin kanggo nggayuh kasampurnan urip kanthi olah rasa. 

Tembang-tembang kang ana sajroning Serat Wedhatama bisa dikelompokkanke ing jinos tembang macapat, antarane Pangkur,Sinom, Pocong, Gambuh, lan Kinanthi. Ing kalodhangan iki, sira diajak mahami serat Wedhatama pupuh Gambuh.

Watake pupuh Gambuh yaiku menehi pepadhang utawa nduweni sipat pitutur. Pupuh  kasebut uga ngemu werdi ngenani kabutuhan hubungan sosial antarane manungsa siji karo manungsa liyane. Manungsa mbutuhake tokoh liya kanggo mbentuk kapribaden dhiri kang becik lan mantep. Wong tuwa, guru lan pemimpin agama klebu tokoh kang paling ideal lan pas kanggo nanemake proses tumuju kamandhirian lan pandewasaan dhiri.

Pupuh Gambuh ugo ngandhut pimulang marang para kawula enom utawa mudha ngenani pentinge ngurmati lan ngregani wong liya, utamane marang wong kang luwih tuwa, klebu wong tuwa (bapa lan ibu) utawa guru. Wujud pakurmatan kasebut kanthi ngleksanakane lan ngetrapake ing panguruban saben dina, kabeh ajaran, prentah, lan nasehat dhuweni gegayutan karo proses tumuju kabecikan.

Saiki, wacanen serat Wedhatama pupuh Gambuh pada kapisan ing ngisor iki!

Samengko ingsun tutur,                 
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhihin: raga, cipta, rasa, kaki
Ing kaono lamun tinemu,
Tandha nugrahaning Manon.

Saka pada Gambuh ing ndhuwur, kita bisa mangerteni struktur tembang kasebut. Kaya tembang macapat liyane, struktur kang mbangun tembang macapat ana telu, yaitu guru gatra (cacahing  larik tembang), guru wilangan (cacahing wanda saben saklarik tembang), Wondene struktur tembang Gambuh kaprinci kaya ngisor iki.

Gatra 1, dumadi saka 7 guru wilangan kanthi guru lagu suku (dipungkasi sak aksara u).
Gatra 2, dumadi saka 10 guru wilangan kanthi guru lagu suku.
Gatra 3, dumadi saka 12 guru wilangi kanthi guru lagu (dipungkasi saka aksara i).
Gatra 4, dumadi saka 8 guru wilangan kanthi guru lagu suku.
Gatra 5, dumadi saka 8 guru wilangan kanthi guru lagu taling tarung ( dipungkasi saka aksara o).


Dadi, guru lagune pupuh Gambuh bisa katulis 7u, 10u, 12i, 8u, 8o.